~~~BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) MODEL DI KABUPATEN SUMEDANG~~~

BPP TANJUNGSARI

Merupakan Salah Satu Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Model di Kabupaten Sumedang

LABORATORIUM LAPANG PENYULUH

Sarana bagi para penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan teknologi pertanian yang akan disuluhkan pada petani binaan

KOMODITAS PADI SAWAH

Merupakan komoditas tanaman pangan yang paling dominan diusahakan oleh para petani di wilayah kerja BPP Tanjungsari

KOMODITAS KUBIS/KOL

Merupakan salah satu komoditas unggulan yang diusahakan oleh petani di wilayah BPP Tanjungsari

KOMODITAS TOMAT

Komoditas tomat banyak diusahakan oleh para petani di wilayah BPP Tanjungsari dengan sistem Mulsa Plastik Hitam Perak

KOMODITAS JAGUNG PIPILAN

Banyak ditanam untuk dijadikan bahan pakan ternak, terutama ternak sapi perah

KOMODITAS KOPI ARABIKA

Komoditas kopi arabika merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sedang dikembangkan oleh para petani di lahan kehutanan

KEGIATAN PELATIHAN PENYULUHAN PERTANIAN

Kegiatan rutin pelatihan penyuluh dengan narasumber dari BKp4K Sumedang

SL PTT PADI NON HIBRIDA SPESIFIK LOKASI DANA KONTINGENSI 2012

tanam serempak

Kegiatan SL-PTT yang dilaksanakan di kelompok tani Hamparan Cikandang Keusal  Desa Raharja kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang dengan luas lahan 25 Ha dengan bantuan yang diterima totalnya adalah 57.400.000,- yang di arahkan  pada:
1.       Sarana Produksi(Urea, NPK, Pupuk organik)
2.       Fasilitas Gerakan tanam serempak / Alsintan (Hand traktor Kecil 6,5 PK,Anhang, Pompa Air, Hand sprayer)


semangat yang tidak pernah padam

Latar belakang:
Pembangunan sektor pertanian ditempuh melalui 3 program utama, yaitu:
1.       Program peningkatan ketahanan pangan
2.       Program pengembangan Agribisnis
3.       Program peningkatan kesejahteraan masyarakat


 
pelatihan operator traktor


Langkah-langkah operasional untuk mencapai program tersebut dilaksanakan melalui:
1.       Akselerasi peningkatan produktifitas
2.       Perluasan areal tanam
3.       Pengembangan sarana dan prasarana
4.       Pengamanan Produksi
5.       Penguatan Kelembagaan
Pengolahan dan Pemasaran hasil
  
pertemuan SL
Salah satunya program yang digulirkan oleh pemerintah Prov Jawa Barat adalah bantuan pengadaan sarana produksi dan pengadaan alsintan melalui metode SL-PTT padi non hibrida spesifik lokasi dana  kontingensi T A 2012, melalui Dinas Pertanian Jawa Barat yang dialokasikan pada dana Dekonsentrasi Dinas Pertanian Jawa Barat,



yang bertujuan :
1.       Memberdayakan kelompok dalam melaksanakan usaha tani padi melalui fasilitas sarana produksi dan pemberian alsintan.
2.       Memfasilitasi kelompok tani dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan kelompok tani dalam usaha padi sawah melalui metode Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu
3.       Meningkatkan Produktivitas dan mutu hasil padi serta meningkatkan kualitas sumber daya alam sebagai modal usahatani berkelanjutan.
Meningkatkan kesejahteraan petani.



Poto Kegiatan SL Kontingensi:


anggota KTH Cikandang Keusal
Plang SL
Ketua Kelompok


Seleksi Benih
Tim Pembina SL
Mengadiri Tanam serempak




RAKSA LEUWEUNG MANGLAYANG


LESTARIKAN ALAM DENGAN BERKEBUN

Sumber : ACEP GUNAWAN SP

Berawal pada tahun 2009 masyarakat yang ada wilayah hutan rakyat gunung manglayang sampai gunung cijambu kabupaten sumedang mulai melirik potensi lahan hutan dan lahan pribadi dengan melakukan penanaman kopi jenis arabika, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian hutan dan tidak mengganggu perekonomian masyarakat yang merambah hutan sampai saat ini perkembangan agribisnis kopi arabika di wilayah hutan rakyat gunung manglayang-cijambu terus berkembang seiring dengan program pengelolaan hutan bersama masyarakat yang diluncurkan oleh kementerian kehutanan.
Pengembangan usahatani terpadu berbasis konservasi tanah dan air merupakan salah satu alternatif untuk mengembangkan potensi lahan pada bagian hulu daerah aliran sungai dan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pendapatan petani. Teknik pengembangan ini lebih menekankan pada upaya pelestarian pemanfaatan sumber daya lahan semaksimal mungkin sepanjang tahun untuk meningkatkan produksi pertanian secara umum  yakni tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan
   

Inikah bantuan barang kualitas terbagus untuk petani tembakau??????

Pemerintah pada tahun 2011 telah mengucurkan sejumlah dana yang berasal dari cukai tembakau. Kucuran dana tersebut lebih dkenal dengan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), yang diperuntukan bagi para petani pembudidaya dan pengolah tembakau.

Kabupaten Sumedang sebagai salah satu penghasil tembakau mole di Jawa Barat, dari DBHCHT tahun 2011 memperoleh dana sebesar Rp. 4,8 miliar yang dikelola oleh beberapa instansi di lingkup Pemerintahan Daerah Kabupaten Sumedang. Dari dana sebesar Rp. 4,8 miliar tersebut, sebanyak Rp. 1 miliar diperuntukan untuk bantuan permodalan usaha petani tembakau yang tergabung dalam kelompok tani tembakau, yang bersifat pinjaman dengan jasa sebesar 1 %.

Tahap awal penggunaan dana dari DBHCHT khususnya bagi petani tembakau, telah dilaksanakan beberapa kegiatan pelatihan oleh dinas-dinas terkait. Materi pelatihan yang diberikan terdiri dari materi yang berkaitan dengan budidaya tembakau maupun materi diluar kegiatan budidaya tembakau.

Selain kegiatan-kegiatan pelatihan, beberapa dinas yang mengelola DBHCHT juga memberikan bantuan dalam bentuk peralatan pengolahan tembakau mole. Peralatan yang diberikan pada petani diantaranya sasag (alas penjemuran daun tembakau), rimbagan (alat untuk membantu dalam proses perajangan daun tembakau) dan pisau rajang. Namun sangat disayangkan, pemberian peralatan seperti disebutkan tidak sesuai dengan kualitas yang biasa digunakan oleh para petani tembakau, sehingga bantuan peralatan tersebut terkesan mubazir.

Salah satu jenis peralatan yang terkesan mubazir / tidak dapat digunakan oleh petani adalah sasag. Sasag merupakan alas untuk menjemur daun tembakau yang telah dirajang, terbuat dari bilahan-bilahan bambu. Sasag bantuan mempunyai kualitas yang jelek dan tidak terpakai oleh petani, terbuat dari bambu yang belum tua, pembuatannya terkesan asal-asalan, kurang rapi, dan kurang kuat. Sasag ini tidak digunakan oleh petani untuk menjemur tembakau dan hanya dibiarkan di pinggir jalan. Beberapa petani tembakau hanya menggunakan sasag ini sebagai pagar persemaian tanaman sayuran saja.

Jika dibandingkan dengan sasag buatan petani sendiri, maka kualitasnya sangat jauh. Petani biasanya membuat sasag dari bambu yang tua, dengan pengerjaan yang rapi serta ukuran yang seragam, dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama tanpa berjamur. Sementara sasag bantuan, belum dipakai juga telah berjamur dan mengkerut.

Sangat disayangkan, dana yang besar untuk pembuatan sasag tidak dapat dinikmati/tidak membantu petani tembakau dan lebih berkesan hanya asal jadi (keproyekan). Petani tembakau hanya dijadikan objek dalam penggunaan DBHCHT ini.
Kualitas sasag bantuan
Kualitas sasag buatan petani tembakau



Pembangunan Saluran Irigasi di Desa Mekarsari

Kegiatan usahatani padi sawah sangat tergantung pada ketersediaan air irigasi untuk mengairi lahan sawah terutama disaat musim kemarau. Selain ketersediaan air, sarana dan prasarana irigasi yang memadai sangat diperlukan guna dapat mengalirkan air irigasi ke lahan sawah sehingga air dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Kondisi cuaca yang ekstrim pada tahun 2011, dampaknya sangat dirasakan oleh para petani padi sawah. Banyak lahan padi sawah yang gagal panen karena kekeringan, sehingga petani padi sawah banyaj yang mengalami kerugian.

Salah satu desa di wilayah kerja BPP Tanjungsari yang lahan sawahnya gagal panen akibat kekeringan adalah Desa Mekarsari Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang. Di desa ini pada triwulan empat tahun 2011 terjadi kekeringan lahan sawah, yang disebabkan kurangnya ketersediaan air irigasi. 

Untuk membantu petani padi sawah di desa Mekarsari yang lahan sawahnya kekeringan dan gagal panen, maka penyuluh pertanian setempat yang berkoordinasi dengan UPTD Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah Tanjungsari melaporkan data kekeringan ke Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang. Pada akhirnya para petani yang mengalami gagal panen mendapat bantuan uang pengganti biaya usahatani padi sawah dari Kementrian Pertanian. Pencairan uang penggantian biaya usahatani tersebut dilakukan pada bulan Desember 2011  melalui rekening kelompok tani Sawahlega Desa Mekarsari.

Selanjutnya guna memanfaatkan dana yang diperoleh kelompok, maka pengurus kelompok mengadakan musyawarah dengan anggota kelompok umtuk membahas mengenai rencana penggunaan dana bantuan dari Kementan tersebut. Kegiatan musyawarah kelompok tersebut menghasilkan suatu kesepakatan bahwa dana bantuan akan digunakan memperbaiki saluran irigasi yang rusak, sehingga air irigasi dapat mengairi lahan sawah yang kekeringan.

Pelaksanaan pembangunan saluran irigasi dilakukan dengan tenaga kerja swadaya dari anggota kelompok tani, yang dimonitoring oleh penyuluh pertanian Desa Mekarsari. Dengan adanya kegiatan pembangunan saluran irigasi ini, maka diharapkan pada musim kemarau lahan persawahan di Desa Mekarsari tidak ada yang kekeringan lagi

Gerakan Rehabilitasi Saluran Irigasi di Desa Mekarsari

Keberadaan sarana irigasi pada lahan pertanian sangatlah menentukan terhadap keberhasilan pertanian, terutama pada musim kemarau. Apabila sarana irigasi dalam kondisi baik dan terawat maka penyaluran air untuk irigasi menjadi lancar dan tidak banyak air yang terbuang percuma.

Pelaksanaan Sekolah Lapang Padi Gogo di Desa Pasigaran

Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan serta mensukseskan program Peningkatan Beras Nasional  (P2BN), maka berbagai kegiatan di laksanakan di tingkat petani/kelompok tani baik dengan bantuan pendanaan dari pemerintah maupun swadaya petani. Kegiatan-kegiatan guna mendukung program tersebut diantaranya sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT) padi sawah dan padi gogo.

Bila dievaluasi, maka jumlah unit lokasi kegiatan SLPTT padi sawah lebih banyak dari SLPTT padi gogo. Hal ini dikarenakan oleh luas lahan padi sawah yang lebih banyak dari luas lahan padi gogo. Faktor yang lainnya karena produkstifitas padi gogo lebih rendah dari produktifitas padi sawah.

Salah satu kelompok tani binaan penyuluh pertanian BPP Tanjungsari yang kini sedang melaksanakan SLPTT padi gogo adalah kelompok Subur Tani, yang berlokasi di Desa Pasigaran Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang dengan penyuluh pertanian Ibu Popi Marlianti, A.Md. Pelaksanaan SLPTT padi gogo di kelompok tani ini telah berjalan sebanyak 10  pertemuan. Adapun materi yang disampaikan mengenai budidaya tanaman padi gogo berdasarkan konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang terdiri dari :

1. Varietas unggul baru (VUB)

2. Benih bermutu dan berlabel

3. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah

4. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)

5. Pengaturan populasi tanaman

6. Panen

7. Tindakan Konservasi Tanah


Dana  pelaksanaan SLPTT padi gogo ini berasal APBN, khususnya dari program SLPTT Padi Gogo Kementrian Pertanian Tahun anggaran 2011 melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang. 

Semoga dengan adanya kegiatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT) padi sawah di Desa Pasigaran khususnya dan di wilayah BPP Tanjungsari pada umumnya, dapat meningkatkan produktifitas tanaman padi padi gogo sehingga program P2BN dapat tercapai.

Beras Organik MADE IN Gapoktan Margajaya

Pertanian organik pada tanaman pangan khususnya pada tanaman padi kini mulai digemari oleh petani. Selain biaya produksi yang lebih murah daripada cara pertanian non organik, produk yang dihasilkan berupa beras lebih aman bagi kesehatan serta lebih tinggi harga jualnya.

Salah satu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang telah melaksanakan pertanian organik di Wilayah BPP Tanjungsari adalah Gapoktan Margajaya yang beralamat di Desa Margajaya Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Gapoktan ini kini baru mengusahakan pertanian organik padi sawah seluas 7 hektar dengan produktiftas rata-rata 59,31 kuintal per hektar. 

Pemasaran beras organik dari Gapoktan Margajaya dilakukan ke Pasar Tanjungsari dan keluar Kecamatan Tanjungsari, dalam hal ini ke wilayah Kota Bandung. Harga jual beras organik di tingkat gapoktan sebesar Rp. 10.000 - Rp. 11.000,- per kilogram.

Salah satu faktor yang mendukung Gapoktan Margajaya untuk mengusahakan pertanian padi organik adalah karena gapoktan ini mampu memproduksi pupuk organik sendiri tanpa harus membeli. Proses pembuatan pupuk organik, dilakukan di rumah APPO (Alat Pengolah Pupuk Organik) yang dimiliki gapoktan. Rumah APPO diperoleh dari bantuan program GEMAR (Gerakan Multi Agribisnis) dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat tahun 2010/2011.

Semoga kegiatan usahatani pertanian organik padi sawah oleh Gapoktan Margajaya dapat di tiru dan diikuti oleh gapoktan-gapoktan yang lainnya di wilayah kerja BPP Tanjungsari Kabupaten Sumedang.




Posting by Nandang Sudrajat, SP

Pelatihan Pemberdayaan Kelompok P3A Mitra Cai

Kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai merupakan salah satu bentuk perkumpulan petani dengan kegiatan yang dikhususkan pada pengelolaan dan pembagian air irigasi. Manfaat dengan adanya kelompok P3A Mitra Cai ini, penggunaan air irigasi menjadi lebih efisien dan berkeadilan sehingga tidak menyebabkan terjadinya perselisihan diantara sesama petani pemakai air.

Guna mewujudkan suatu kelompok P3A Mitra Cai yang kuat dan mandiri, maka perlu dilakukan suatu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia kelompok P3A Mitra Cai khususnya aspek pengetahuan, sehingga dapat mengelola kelompok P3A Mitra Cai secara lebih baik. Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pelatihan pada kelompok P3A Mitra Cai.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka BPP Tanjungsari bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pertanian tanaman pangan dan hortikultura wilayah Tanjungsari menyelenggarakan kegiatan pelatihan pemberdayaan bagi kelompok P3A Mitra Cai. Kagiatan pelatihan diselenggarakan di Kelompok P3A Mitra Cai "Pataruman", yang berlokasi di Dusun Karasak Desa Sukarapih Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang dengan jumlah peserta pelatihan sebanyak 25 orang anggota kelompok. Pelatihan dilaksanakan sebanyak 6 tahap (6 kali pertemuan).
 
Fasilitator dalam kegiatan ini berasal dari penyuluh pertanian Desa Sukarapih, petugas dari UPTD Pertanian Wilayah Tanjungsari, Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) serta dari BPP Tanjungsari. Dengan adanya kegiatan pelatihan ini, maka diharapkan kelompok P3A Mitra Cai Pataruman dapat lebih berdaya dan mandiri dalam mengelola air irigasi.
 
 
 
Posting by Nandang Sudrajat, SP



Kemitraan Gapoktan Dalam Penyediaan Sarana Produksi Pertanian

Salah satu program kerja Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di tiap-tiap desa yang belum terealisasi adalah belum terjalinnya kerjasama kemitraan dengan pihak lain. Pihak lain yang dimaksud diantaranya dengan lembaga pemasaran produk pertanian, penyedia sarana produksi pertanian maupun dengan industri-industri pengolahan produk pertanian. Pada umumnya kegiatan di Gapoktan baru sampai pada  kegiatan pengelolaan dana PUAP melalui kegiatan simpan pinjam, sehingga perkembangan Gapoktan kurang begitu pesat.

 
Salah satu Gapoktan di wilayah kerja BPP Tanjungsari yang telah menjalin kemitraan adalah Gapoktan Pagerkamulyan Desa Genteng Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang. Kemitraan yang dilakukan oleh Gapoktan Pagerkamulyan adalah berupa kemitraan dalam penyediaan sarana produksi pertanian dengan salah satu kios resmi penyalur sarana produksi pertanian.

Penandatanganan kesepakatan kemitraan dilakukan di sekretariat gapoktan dengan disaksikan oleh penyuluh pertanian Desa Genteng serta oleh pengurus Gapoktan. Mekanisme kemitraan yang disepakati adalah sebagai berikut :

Pertama, Pihak toko resmi sarana produksi berkewajiban memfasilitasi dan menyediakan segala keperluan sarana produksi pertanian yang diperlukan oleh anggota gapoktan

Kedua, Anggota yang memerlukan sarana produksi melapor pada pengurus gapoktan dan mengajukan keperluan sarana produksi pertanian sesuai kebutuhan

Ketiga, Gapoktan menyetujui permohonan anggota gapoktan untuk memperoleh sarana produksi sesuai pengajuan, kemudian gapoktan memberikan rekomendasi pada kios resmi saprotan untuk memenuhi daftar kebutuham saprotan anggota gapoktan.

Keempat, Setelah saprotan di penuhi oleh kios resmi saprotan, maka pemilik kios saprotan memberikan nota penjualan saprodi ke gapoktan dan gapoktan berkewajiban membayarnya.

Kelima, Jumlah uang yang dikeluarkan gapoktan untuk membayar saprotan sesuai kebutuhan anggota, menjadi pinjaman anggota yang bersangkutan pada gapoktan yang diperkuat dengan surat perjanjian pinjaman antara gapoktan dengan anggota.

Keenam, Dari hasil penjualan saprotan pada anggota gapoktan, kios resmi berkewajiban memberikan insentif (fee) kepada gapoktan sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian kemitraan.

Demikianlah mekanisme kemitraan yang telah disepakati dan dilakukan oleh Gapoktan Pagerkamulyan. Dengan adanya kemitraan ini, maka gapoktan selain memperoleh pendapatan dari jasa pinjaman anggota juga memperoleh pendapatan lain berupa insentif dari kios sarana produksi pertanian. Keuntungan lain dari kemitraan ini dapat membantu anggota gapoktan yang kekurangan/kehabisan modal untuk membeli sarana produksi pertanian, sehingga proses usahatani anggota gapoktan terus berjalan.


Posting by Nandang Sudrajat, SP

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites