~~~BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) MODEL DI KABUPATEN SUMEDANG~~~

BPP TANJUNGSARI

Merupakan Salah Satu Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Model di Kabupaten Sumedang

LABORATORIUM LAPANG PENYULUH

Sarana bagi para penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan teknologi pertanian yang akan disuluhkan pada petani binaan

KOMODITAS PADI SAWAH

Merupakan komoditas tanaman pangan yang paling dominan diusahakan oleh para petani di wilayah kerja BPP Tanjungsari

KOMODITAS KUBIS/KOL

Merupakan salah satu komoditas unggulan yang diusahakan oleh petani di wilayah BPP Tanjungsari

KOMODITAS TOMAT

Komoditas tomat banyak diusahakan oleh para petani di wilayah BPP Tanjungsari dengan sistem Mulsa Plastik Hitam Perak

KOMODITAS JAGUNG PIPILAN

Banyak ditanam untuk dijadikan bahan pakan ternak, terutama ternak sapi perah

KOMODITAS KOPI ARABIKA

Komoditas kopi arabika merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sedang dikembangkan oleh para petani di lahan kehutanan

KEGIATAN PELATIHAN PENYULUHAN PERTANIAN

Kegiatan rutin pelatihan penyuluh dengan narasumber dari BKp4K Sumedang

Tampilkan postingan dengan label Informasi Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Peternakan. Tampilkan semua postingan

Beternak Jangkrik Usaha yang Cukup Menjanjikan

Meningkatnya kebutuhan pakan burung peliharaan telah membuka peluang yang sangat manjanjikan untuk usaha ternak jangkrik. Seperti kita ketahui dikalangan pecinta ternak burung, jangkrik merupakan salah satu jenis pakan yang sangat dibutuhkan guna memenuhi pakan burung peliharaan setiap harinya.
Beternak jangkrik untuk kebutuhan pakan ternak burung kini telah dikenal dan mulai diusahakan oleh masyarakat baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Beternak jangkrik banyak diminati untuk diusahakan karena harga jual yang menjanjikan, peluang pasar yang cukup terbuka, teknologi yang dibutuhkan sederhana serta tidak memerlukan lahan yang luas.

Di Wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanjungsari tepatnya di wilayah Desa Nanggerang Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang, beternak jangkrik sudah dirintis oleh ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Mukti Desa Nanggerang Kecamatan Sukasari yaitu oleh Bapak Iyep Saefuzzaman sejak emapat bulan yang lalu. Walaupun masih dalam skala kecil dan masih dalam tahap coba-coba, namun menurut pengakuan beliau, usaha ternak jangkrik ini cukup menguntungkan. 

Awal mula tertarik pada usaha jangkrik berasal dari informasi penyuluh pertanian Desa Nanggerang yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan survey pasar dan survey ketersediaan bibit jangkrik. Alhasil, secara langsung terjalin kemitraan dalam penyediaan bibit jangkrik yang masih berupa telur juga kemitraan dalam pemasaran hasil panen.

Menurut penuturan beliau, beternak jangkrik dimulai dengan penyediaan tempat ataupun kandang untuk jangkrik yang berupa kotak dengan ukuran lebar 50 cm, panjang 2 meter dan tinggi 75 cm yang terbuat dari triplek. Ukuran kandang yang demikian diperuntukan untuk pembesaran sebanyak 150 gram telur jangkrik. Sebagai media tinggal jangkrik didalam kandang, maka ditempatkan kertas bekas dudukan telur/kertas bekas kemasan telur ayam yang disimpan dengan cara di berdirikan sampai semua ruang kotak kayu terisi.

Tahap- selanjutnya yang dilakukan setelah kandang tersedia adalah penyiapan bibit jangkrik berupa telur jangkrik yang diperoleh dari daerah Cileunyi Kabupaten Bandung. Telur jangkrik yang akan di tetaskan dan selanjutnya di besarkan diperoleh dengan harga beli Rp. 40.000,; per 100 gram atau Rp. 400.000,’ per kilogram. Selanjutnya telur jangkrik di sebar pada kertas-kertas bekas kemasan telur di beberapa lokasi, dengan volume 150 gram telur jangkrik perkandangnya.

Proses penetasan telur jangkrik berlangsung selama 7 hari. Setelah telur jangkrik menetas maka selanjutnya disediakan pakan berupa pakan konsentrat ternak ayam pedaging yang telah di jadikan tepung sebelumnya. Pakan ini disimpan pada baki yang terbuat dari kayu yang ditempatkan diatas jejeran bekas kemasan telur ayam. Pakan yang lainnya setelah jangkrik tumbuh besar berupa pakan hijauan seperti sisa-sisa daun sayuran maupun rumput liar.

Pembesaran jangkrik berlangsung selama 60 hari atau sebelum jangkrik tumbuh bulunya. Kebutuhan pakan konsentrat selama masa itu adalah sebanyak 7 kilogram untuk pakan 1 kilogram telur jangkrik. Pemanenan jangkrik dilakukan sebelum tumbuh bulu/sayap karena apabila telah tumbuh bulu/sayapnya, maka harga jual jangkrik menjadi rendah.

Jumlah produksi jangkrik yang dibesarkan selama 60 hari,  dari telur jangkrik sebanyak 1 kilogram menghasilkan jangkrik sebanyak 45-46 kilogram dengan konversi pakan 1 : 0,9 artinya dari konsumsi pakan sebanyak 1 kilogram menghasilkan jangkrik siap jual sebanyak 0,9 kilogram. Adapun harga jual jangkrik sebesar Rp. 27.500,- per kilogram.

Dengan usaha yang sederhana sambil memanfaatkan waktu luang disela-sela memelihara ternak sapi perah dan bertani dilahan sawah, Bapak Iyep dapat memperoleh penghasilan tambahan sebanyak Rp. 400.000,- sampai Rp. 450.000,- tiap bulannya. Sungguh merupakan suatu peluang usaha yang cukup menjanjikan.

Potensi Domba Garut

Pada dasarnya domba dan kambing merupakan jenis hewan ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil, keduanya pun populasinya hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia. Namun bila kita melihat visual fisiknya dengan cermat maka domba berbeda dengan kambing.
Postur tubuh domba cenderung lebih bulat dibandingkan dengan kambing yang ramping. Daun telinga kambing panjang dan terkulai. Bentuk bulu domba pun lebih ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool sedangkan lain halnya dengan kambing yang cenderung lurus.
Hewan ternak domba yang ada sekarang diduga merupakan hasil dometikasi manusia dari 3 jenis domba liar: Domba Mouflon dari Eropa Selatan dan Asia Kecil,

Ransum Pakan Sapi Perah

 Pendahuluan

Usaha sapi potong mempunyai banyak keuntungan antara lain membutuhkan modal yang relatif lebih kecil dan harga daging masih relatif tinggi, sehingga tingkat keuntungannya juga lebih tinggi. Selain itu tatalaksana pemeliharaannya juga relatif lebih mudah dibandingkan dengan sapi perah.


Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak adalah produktivitas ternak potong rata-rata masih rendah. Hal ini disebabkan kualitas ransum, bibit dan tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya pertambahan bobot badan harian adalah dengan meningkatkan kualitas ransum pada saat penggemukan. Peningkatan kualitas ransum terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total Digestible Nutrients (TDN) diperlukan pada saat penggemukan. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertambahan bobot badannya. Ransum yang biasanya diberikan pada ternak potong di tingkat peternak pada umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9 – 12% (Siregar, 1994). Dengan kisaran tersebut akan menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar protein untuk ternak serta perkembangan mikroba rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat berkembang dengan baik pada saat kadar protein kasar ransum yang diberikan pada ternak sebesar 13,4% (Tamminga, 1979).


Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal tentunya dengan memperhatikan harga pakan yang ekonomis.

Menghitung Kebutuhan Nutrisi Pakan Sapi Perah

Ternak ruminansia maupun makhluk hidup lainnya membutuhkan sejumlah zat – zat gizi guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup ternak ruminansia, khususnya, terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan zat – zat gizi untuk memenuhi proses – proses hidup saja tanpa adanya suatu kegiatan dan produksi (pertumbuhan, kerja dan produksi susu). Sedangkan kebutuhan produksi adalah kebutuhan zat – zat gizi untuk pertumbuhan, kebuntingan, produksi susu dan kerja.

Dalam menghitung kebutuhan nutrisi ternak ditentukan oleh performance / penampilan ternak, dimana hal ini dapat berupa berat badan, pertambahan berat badan harian, masa kebuntingan dan menyusui. Bila seekor ternak diberi makanan untuk kepentingan pertumbuhan, penggemukan, produksi air susu atau untuk kepentingan fungsi produksi lainnya, maka sebagian makanan itu dipergunakan untuk menunjang proses dalam tubuh yang harus dilaksanakan walaupun ada atau tidak ada pembentukan jaringan baru atau produksi. Kebutuhan-kebutuhan akan makanan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi energi guna proses essensial organisme hidup disebut kebutuhan hidup pokok organisme tersebut.

Sehingga bisa dikatakan bahwa apabila kebutuhan hidup pokoknya sudah terpenuhi, maka sisa nutrisi dalam makanan tersebut akan digunakan untuk proses produksi. Jika ternak tidak mendapatkan suplai makanan yang cukup untuk kebutuhan pokok hidupnya, maka dia tidak akan bisa memenuhi target untuk berproduksi. Bahkan ternak tersebut akan merombak cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ternak menjadi kurus.

Kebutuhan hidup pokok tergantung pada bobot badan. Semakin tinggi bobot badan ternak ruminansia, maka akan semakin banyak pula jumlah zat–zat gizi yang dibutuhkan. Kebutuhan zat gizi untuk produksi tergantung pada tingkat dan jenis produksi.

a. Kebutuhan zat–zat gizi untuk pertumbuhan ternak tergantung pada besar dan kecepatan   pertumbuhannya. Ternak ruminansia yang tumbuh dengan cepat membutuhkan zat gizi yang lebih banyak pula.
b.    Kebutuhan untuk kebuntingan tergantung pada umur atau lama kebuntingan. Umur kebuntingan yang semakin tua membutuhkan zat – zat gizi yang semakin banyak pula
Kebutuhan untuk produksi susu tergantung pada jumlah susu yang diproduksi dan kadar lemaknya. Makin  tinggi jumlah dan kadar lemak susu yang diproduksi, maka semakin tinggi pula jumlah zat – zat gizi yang dibutuhkan.
c.    Zat–zat gizi yang diperlukan oleh ternak ruminansia untuk kebutuhan hidup pokok maupun produksi adalah energi, protein, mineral, vitamin dan air. Zat–zat gizi tersebut terdapat dalam berbagai jenis pakan yang dapat diformulasikan menjadi ransum.

•   Energi
Dalam pengertian sederhana energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Energi merupakan zat gizi yang banyak dibutuhkan ternak ruminansia setelah air. Banyaknya energi yang terkandung di dalam pakan atau energi yang dibutuhkan ternak ruminansia dapat dinyatakan dalam berbagai cara, seperti energi metabolis, martabat pati, atau total digestible nutrient.
Total digestible nutrient yang disingkat TDN adalah jumlah energi dari pakan maupun ransum yang dapat dicerna. Semua pakan mengandung zat – zat makanan yang dapat menjadi sumber energi, yakni protein, serat kasar, lemak dan bahan ekstrak tanpa N (beta-N). Dari ketiga sumber energi (karbohidrat, lemak, protein), sebagian besar energi yang dibutuhkan ternak ruminansia diperoleh dari karbohidrat. Hal ini dapat dipahami, sebab penggunaan lemak dalam jumlah banyak dapat menimbulkan efek negatif pada ternak. Sedangkan protein merupakan sumber energi yang mahal dibandingkan karbohidrat dan lemak.

  protein
Sebenarnya yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia dari protein adalah asam - asam amino. Di dalam tubuh ternak ruminansia, protein ini ada yang bisa disintesa, namun ada pula yang tidak bisa disintesa. Protein yang tidak bisa atau hanya sebagian kecil saja yang bisa disintesa di dalam tubuh ternak ruminansia disebut asam amino esensial. Sedangkan protein yang bisa disintesa di dala tubuh ternak ruminansia disebut asam amino non-esensial.
Asam amino yang dibutuhkan ternak ruminansia sebagian dipenuhi dari protein mikroba dan sebagian lagi dari protein pakan / ransum yang lolos dari fermentasi di dalam rumen (protein-by pass). Protein yang dibutuhkan ternak ruminansia yaitu dalam bentuk protein kasar dan protein dapat dicerna. Protein kasar adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat di dalam pakan / ransum dikalikan dengan 6,25 (N x 6,25). Sedangkan protein dapat dicerna adalah protein pakan / ransum yang dicerna dan diserap dalam saluran – saluran pencernaan. Sumber protein bagi ternak ruminansia adalah protein natural (protein pakan / ransum) dan non protein nitrogen (NPN).

Salah satu senyawa NPN yang telah umum dikenal adalah urea. Urea ini merupakan suatu senyawa kimia yang mengandung nitrogen 40 – 45%. Urea dapat digunakan sebagai salah satu sumber nitrogen bagi ternak ruminansia karena adanya mikroorganisme di dalam rumennya. Namun, perlu ditegaskan bahwa penggunaan urea dalam ransum ternak ruminansia tersebut adalah sebagai substitusi sebagian proten ransum atau sebagai suplemen terhadap ransum yang berkualitas rendah. Penggunaan urea dalam ransum ternak ruminansia mempunyai batas – batas tertentu agar tidak terjadi keracunan. Sebaiknya, pemberian urea juga tidak dicampur dengan jerami kacang kedelai, sebab jerami kacang kedelai mengandung enzim yang dapat menyebabkan urea bersifat racun pada ternak ruminansia.

   Mineral
Banyak proses – proses di dalam tubuh ternak hanya dapat berjalan dengan sempurna berkat adanya mineral. Diantara mineral – mineral yang terpenting adalah Na, Cl, K, Fe, Cu, Mg, Ca dan P. Pada umumnya Na dan Cl diberikan dalam bentuk garam dapur. Di samping unsur Na dan Cl, di dalam ransum sapi perah dan kambing perah yang sedang berproduksi susu perlu diperhatikan pula kecukupan unsur Ca, P dan Mg. Unsur – unsur lainnya dianggap telah mencukupi dalam ransum yang diberikan dan tidak perlu ditambahkan, kecuali bila terjadi gejala defisiensi.
Pemberian Na dan Cl dalam bentuk garam dapur untuk kambing, domba, maupun sapi dalam masa pertumbuhan cukup sekitar 1% dari jumlah konsentrat yang diberikan. Mineral lainnya yang perlu diperhatikan di dalam ransum kambing dan domba adalah Ca, P dan Mg.

 Vitamin
Walaupun jumlah yang dibutuhkan relatif kecil, namun vitamin sering merupakan faktor yang ikut menentukan dalam produksi ternak. Jenis vitamin yang sudah dikenal antara lain vitamin A, vitamin B-kompleks, vitamin C, vitamin D, vitamin E dan vitamin K. Vitamin B, K dan C tidak perlu diperhatikan maupun ditambahkan di dalam ransum ternak ruminansia. Sebab, vitamin B dan K dapat dibentuk di dalam rumen, sedangkan vitamin C dalam jaringan tubuh ternak ruminansia.
Dalam keadaan normal, vitamin – vitamin yang dibutuhkan ternak ruminansia pada umumnya sudah terpenuhi dari ransum yang diberikan, kecuali vitamin A dan E yang sering kekurangan. Tingkat kecukupan vitamin D untuk ternak ruminansia di daerah tropis tidak menjadi masalah dan tidak perlu ditambahkan dalam ransum yang diberikan.

  AIR
Selain merupakan bagian dari organ – organ tubuh ternak, air di dalam tubuh ternak berfungsi dalam transportasi zat – zat makanan melalui dinding–dinding usus masuk ke dalam peredaran darah, mengangkut zat – zat sisa, sebagai pelarut beberapa zat, dan mengontrol suhu tubuh. Begitu besar peranan air di dalam tubuh ternak sehingga apabila ternak kekurangan air sebanyak 10% dari jumlah kandungan air yang terdapat dalam tubuh ternak dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Apabila kekurangan air itu mencapai 20% maka dapat menimbulkan kematian. Kebutuhan air pada ternak ruminansia khususnya, tergantung pada berbagai faktor. Beberapa diantaranya sebagai berikut :

     -    Keadaan ransum yang diberikan
-    Suhu udara
-    Produksi susu
-    Besar tubuh


Domba dan Kambing di Indonesia : Potensi, Masalah dan Solusi

PENDAHULUAN
Pembangunan sektor pertanian dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi, senantiasa didorong untuk mewujudkan perekonomian nasional yang sehat, hal ini tercermin dari visi yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian, sedangkan dalam misi pembangunan peternakan antara lain adalah memfasilitasi penyediakan pangan asal ternak yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitasnya, memberdayakan SDM agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, menciptakan peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, membantu menciptakan lapangan kerja, dan melestarikan serta memanfaatkan sumberdaya alam pendukung peternakan (Departemen Pertanian, 2001). Salah satu komoditas perternakan yang memenuhi kriteria seperti pada visi daan misi di atas antara lain komoditas domba dan kambing.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites